Friday , December 14 2018
Breaking News
You are here: Home / Artikel / Sambutan Menteri Agama Republik Indonesia Pada Peresmian Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan

Sambutan Menteri Agama Republik Indonesia Pada Peresmian Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan

DI ISTANA NEGARA, 19 DESEMBER 2014

Yang Mulia Presiden Republik Indonesia

Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat

Yang Terhormat para Menteri Kabinet Kerja

Saudara Rektor, Ketua, dan Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan

Para Pejabat Kementerian Agama dan undangan, hadirin yang saya hormati

Pertama-tama ijinkan saya selaku Menteri Agama dan mewakili seluruh pejabat Kementerian Agama, pimpinan dan civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada Presiden Republik Indonesia yang bersedia menerima kami di Istana Negara dalam rangka “Peresmian Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Launching Program 5000 Doktor”.

Yang kedua, saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa para Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia selalu mendoakan Bapak Presiden sukses memimpin negara Indonesia yang besar ini.

Bapak Presiden dan hadirin yang terhormat,

Perguruan tinggi Islam Indonesia memiliki kaitan historis dengan masa-masa pergerakan bangsa Indonesia. Para pemimpin pergerakan Islam menyadari bahwa kehadiran perguruan tinggi Islam di Indonesia merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Sejak tahun 1920-an jumlah lulusan pesantren, madrasah, dan sekolah-sekolah Islam semakin meningkat. Karena itu, para pemimpin Islam yang tergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi Islam. Tepat 40 hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada 8 Juli 1945, perguruan tinggi Islam lahir di Jakarta. Tokoh-tokoh pergerakan nasional yang menjadi founding fathers Indonesia seperti KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, KH. Wahid Hasyim, Prof. Kasman Singodimedjo, dan Prof. Kahar Muzakkir turut membidani lahirnya perguruan tinggi Islam ini.

Setelah melewati masa-masa revolusi dan turut berpindah saat Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta, pada tanggal 24 Agustus 1960 diresmikanlah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) atau Al-Jâmi’ah al-Islâmiyah al-Hukumiyah yang berkedudukan di Yogyakarta dan Jakarta.

Dari kedua tempat itu, IAIN kemudian menyebar dan berdiri di 13 kota propinsi : Jakarta, Yogyakarta, Aceh, Sumatera Utara, Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Makassar, Surabaya, dan Semarang. Pada tahun 1997, seiring dengan kebijakan mainstreaming pendidikan Islam, sejumlah IAIN cabang diubah menjadi STAIN sehingga berjumlah 33 lembaga di seluruh Indonesia. Lima dasawarsa kemudian, Perguruan Tinggi Islam telah mencapai 644 lembaga terdiri atas 55 perguruan tinggi Islam negeri (UIN, IAIN, dan STAIN) dan 563 berstatus swasta, tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Besarnya jumlah perguruan tinggi Islam ini menunjukkan partisipasi masyarakat Muslim dalam pendidikan tinggi di Indonesia sangat besar.

Bapak Presiden dan hadirin yang terhormat,

Transformasi perguruan tinggi Islam mencakup banyak aspek, baik institusional, struktural maupun kultural dan sosial. Perubahan bentuk dari STAIN menjadi IAIN, atau IAIN menjadi UIN adalah transformasi dalam arti institusional. Beberapa perguruan tinggi Islam yang dulunya masih berstatus IAIN dan sekarang beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dikenal sebagai jendela Islam Indonesia di mata internasional dan menjadi world class university. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membangun Center of Excelence ilmu-ilmu keislaman. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengembangkan perpaduan antara sistem pesantren (Ma’had) dan kampus untuk melahirkan calon ilmuwan dan ulama’. UIN Sunan Ampel Surabaya dengan paradigma Integrated Twin Towers membangun keilmuan integratif multidisipliner, mewujudkan Islam transformatif. IAIN Ambon diproyeksikan sebagai inisiasi model resolusi konflik. STAIN Jayapura dan Sorong menjadi pusat kajian pribumisasi Islam. UIN Ar-Raniry Aceh ingin memodernisasi legislasi syariat Islam. IAIN Surakarta membuka Pusat Kajian Islam-Jawa (Java Corner). Dan IAIN Walisongo Semarang diarahkan menjadi sentra pengembangan ilmu falak/astronomi.

Di samping perubahan kelembagaan, secara kultural dan sosial transformasi perguruan tinggi Islam menunjukkan hasil-hasil positif. Sejak awal berdirinya, perguruan tinggi Islam adalah satu-satunya saluran mobilitas sosial paling penting bagi anak-anak Muslim dari madrasah dan santri pesantren, yang umumnya berasal dari pedesaan dan kampung-kampung jauh di berbagai pelosok Indonesia. Ini potensi pertama perguruan tinggi Islam, yakni menjadi katalisator bagi tumbuhnya kelas menengah Muslim yang berasal dari berbagai lapisan sosial masyarakat. Mobilitas sosial anak-anak Muslim itu mendorong pertumbuhan pembangunan masyarakat desa berbasis nilai-nilai keislaman. Karena setelah anak-anak ini lulus dari kuliah, mereka kembali ke ’habitat asli’nya di desa dan menjadi motor penggerak pembangunan pedesaan.

Potensi kedua, perguruan tinggi Islam berada pada basis-basis komunitas Muslim dengan segala variannya. Pada saat yang sama perguruan tinggi Islam berada pada lingkungan sosiologis yang majemuk baik suku, bahasa, dan agama. Posisi ini sangat menguntungkan karena dengan begitu perguruan tinggi Islam menjadi “penyangga wilayah” yang berfungsi sebagai penjaga moralitas, stabilitas, dan harmoni sosial berlandaskan nilai-nilai agama.

Ketiga, saya berpendapat bahwa perguruan tinggi Islam merupakan ‘berkah’ bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Indonesia yang demokratis dan pluralistik seperti sekarang ini sedikit banyak merupakan sumbangan perguruan tinggi Islam. Mengapa? Karena PTAI telah melahirkan intelektual dan aktivis Muslim yang berwawasan islami, pemahaman Islam yang progresif, inklusif, rasional, dan moderat yang kompatibel dengan perkembangan masyarakat Indonesia menuju negara demokrasi terbesar di dunia. Intelektual dan aktivis Muslim itulah yang menjadi penggerak dan motivator masyarakat melalui berbagai lembaga pendidikan seperti pesantren, madrasah, diniyah, lembaga dakwah, masjid, majelis ta’lim, pendidikan al-Qur’an, maupun lembaga-lembaga sosial keagamaan seperti NU, Muhamamdiyah, Persis, Al-Washliyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), lembaga wakaf, lembaga zakat, infaq dan shodaqoh, dan sebagainya.

Keempat, perguruan tinggi berperan sebagai perekat NKRI. Bagi mayoritas Muslim Indonesia, bentuk negara Indonesia adalah final. NKRI adalah bentuk ideal negara yang dicita-citakan bangsa ini. Melalui kajian keislaman yang moderat, inklusif, tetapi modern, perguruan tinggi menjadi perekat yang efektif dari berbagai pandangan keagamaan yang beragam dan menjadi “melting pot” dari berbagai faham keagamaan yang ada di Indonesia. Banyak tokoh Muslim yang lahir dari rahim perguruan tinggi Islam menjadi juru bicara Islam Indonesia yang ramah, toleran, berbudaya, dan damai ke kancah internasional. Bahkan beberapa dosen UIN dan IAIN mendapatkan pengakuan internasional (international recognition) menjadi pengajar di sejumlah universitas terkemuka di Amerika, Australia, Inggris, Belanda, Belgia, Maroko, Tunisia, Austria, dan Singapura.

Kelima, peran fundamental perguruan tinggi Islam adalah menjadi unsur perekat kebangsaan yang dilandasi nilai-nilai luhur agama; menciptakan infrastruktur keberagamaan yang moderat; mendukung suasana Indonesia yang demokratis; dan menyiapkan warga bangsa yang menghargai kemajemukan, perbedaan pendapat, toleran, santun, dan inklusif. Hal ini selaras dengan proses pembelajaran di perguruan tinggi Islam yang ditujukan untuk membekali mahasiswa memiliki kepribadian Muslim yang baik, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, dan pemahaman keagamaan yang moderat, rasional, dan modern guna mengimplementasikan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil-‘âlamîn).

Bapak Presiden dan hadirin yang berbahagia,

Perguruan tinggi Islam seperti saya sampaikan di atas hanyalah satu di antara sekian banyak potensi yang dimiliki umat Islam dan bangsa Indonesia. Selain perguruan tinggi Islam, kita memiliki lembaga pendidikan pesantren, madrasah, sekolah-sekolah Islam, diniyah, pendidikan al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lembaga-lembaga keagamaan yang jumlahnya mencapai puluhan ribu tersebar di seluruh pelosok Nusantara.

Beberapa peneliti menyebutkan bahwa perkembangan lembaga/satuan pendidikan Islam di Indonesia memiliki keunikan (distingsi) yang tidak ditemukan di masyarakat bangsa lain, di Timur maupun Barat. Pesantren tidak ada padanannya dengan sistem pendidikan yang tumbuh dan berkembang di Timur Tengah sekalipun. Pesantren adalah hasil kreatifitas dan produk asli Indonesia (indigenous education). Madrasah, meskipun ada kesamaan nama dengan lembaga pendidikan di negara lain, namun madrasah di Indonesia memiliki ciri yang unik. Mengajarkan agama secara modern juga pendidikan umum. Pertumbuhan Diniyah, Majelis Ta’lim, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang fenomenal di Indonesia juga tidak bisa ditemukan di negara manapun di dunia. Perguruan Tinggi Islam yang berjumlah 644 lembaga merupakan jumlah paling banyak yang bisa ditemui di negara-negara Islam.

Apa yang hendak kami sampaikan bahwa perkembangan pendidikan Islam di Indonesia adalah kemajuan fenomenal yang dampaknya berjangkauan luas terhadap masa depan bangsa Indonesia. Saya dapat katakan bahwa pendidikan Islam memang dibutuhkan negeri ini. Oleh karena itu Yang Mulia Bapak Presiden, kami mencanangkan untuk menjadikan Indonesia sebagai “kiblat pendidikan Islam dunia”. Jika selama ini ada kesan kiblat dan pusat pendidikan Islam berada di negara-negara Timur Tengah yang menggunakan bahasa Arab, sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam bagi warga dunia. Selain jumlah dan bentuk satuan pendidikan Islam di Indonesia yang beragam dan khas (distingtif), kita memiliki kesiapan yang cukup untuk menjadi tuan rumah bagi warga negara lain belajar Islam di Indonesia.

Pertama, Indonesia merupakan negara demokratis terbesar di dunia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada saat negara-negara Islam Timur Tengah, terutama kasawan Arab Spring, dilanda persoalan politik yang berujung pada suasana kaotik, bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim mayoritas menjadi magnet baru bagi bangsa-bangsa lain sebagai contoh pelaksanaan demokrasi, hubungan antar agama yang harmonis, pluralisme, kemajuan ekonomi, dan kompatibilitas Islam dan hak-hak asasi manusia.

Kedua, Indonesia dipercaya oleh negara-negara Islam untuk menyelenggarakan even-even internasional tentang Islam. Ketiga, performa jamaah haji Indonesia di mata dunia juga sangat positif. Pelaksanaan haji Indonesia mempunyai tingkat kepercayaan internasional yang sangat tinggi. Selain jumlah jamaah haji Indonesia yang sangat besar, haji dapat dijadikan ajang promosi yang luar biasa tentang Islam Indonesia.

Keempat, beberapa perguruan tinggi Islam telah memiliki mahasiswa asing dengan jumlah yang besar. Ada ratusan mahasiswa berasal dari Australia, Amerika, Mesir, Yaman, Maroko, Vatikan, Rusia, Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, dan seterusnya. Sejumlah UIN dan IAIN membuka kelas internasional Jumlah ini akan semakin meningkat seiring dengan minat dan kepercayaan internasional yang semakin tinggi terhadap Indonesia yang aman, damai, dan merupakan bangsa Muslim paling demokratis di dunia.

Kita optimis bahwa ke depan, Islam Indonesia akan menjadi trade-mark bagi bangsa Indonesia dan menjadi daya tarik bagi bangsa-bangsa lain belajar Islam. Untuk mendukung proses-proses itulah mulai tahun 2015, Kementerian Agama akan memberikan biaya studi 1.000 calon Doktor setiap tahunnya untuk kuliah di berbagai universitas, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Selama lima tahun yang akan datang, kami berharap akan lahir 5.000 Doktor yang akan menjadi garda terdepan pengembangan kajian dan pembelajaran Islam di Indonesia. Inilah sumbangsih yang kami harapkan bagi Indonesia yang lebih jaya dan bermartabat.[]

Jakarta, 19 Desember 2014

Menteri Agama,

Lukman Hakim Saifuddin

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top