Breaking News
You are here: Home / Artikel / Seminar Keagamaan; Deradikalisasi dalam Perspektif Tasawuf

Seminar Keagamaan; Deradikalisasi dalam Perspektif Tasawuf

Masalah vonis kafir, gerakan maupun pemikiran takfiri telah menjadi perdebatan sejak lama dan tidak jarang berbuntut tuduhan kepada pihak tertentu tanpa bukti yang jelas. Di Indonesia, pada tahun 2015 pemerintah melalui BNPT (Badan Nasional Penanggulan Terorisme) mulai memblokir situs-situs atau website yang dianggap radikal. Dilansir dari laman kominfo.go.id setidaknya terdapat 22 situs yang telah di blokir.

Ada kondisi tertentu secara alamiah membentuk pemikiran ataupun kelompok takfir. Penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah dan berlaku kejam terhadap umat Islam menjadi pemicu utama. Ditambah lagi keadaan semakin kompleks ketika masyarakat Muslim secara luas terlena dalam kemaksiatan dan kerusakan. Semua kondisi ini secara alamiah telah melahirkan pemikiran ataupun aliran takfiri yang ekstrem.

Disini peran ulama sangat penting dalam penanggulan radikalisme maupun terorisme karena mereka merupakan jembatan untuk menyampaikan pendidikan yang menjunjung nilai persatuan dan membentuk sumber daya manusia yang toleran. Selain itu, ulama juga memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan karena mereka dianggap sosok panutan bagi masyarakat, sehingga mudah memberikan peringatan bagi masyarakat untuk tidak terpengaruh pada pemikiran-permikiran yang dianggap keras.

Pada, 13 Agustus 2017. Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah 2 Brebes berkesempatan mengadakan acara Seminar Keagamaan dengan tema Deradikalisasi dalam Perspektif Tasawuf dengan menghadirkan pembicara dari Maroko yaitu Syeikh Aziz El-Kobaithi Al-Idrissi Ph.D selaku President of The International Academic Center of Sufi and Aethestic Studies di dampingi oleh Dr. KH. Ahmad Najib Affandi, MA selaku pembina Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hikmah 2, bertempat di Gedung Serbaguna PON-PES Al-Hikmah 2, Brebes.

Dalam kesempatannya menurut Syeikh Aziz El-Kobaithi Al-Idrissi, saat ditanya mengenai kriteria ulama haqiqi yang dapat dijadikan panutan agar terhindar dari paham-paham radikal beliau menjawab “Ulama haqiqi adalah ulama yang bertakwa, ulama yang tidak pernah mengedepankan fanatisme, ulama yang hati-hati dalam menggunakan ayat Allah (tidak  mudah memberi fatwa) dan ulama yang tidak mudah menjual ilmunya” (Brebes, 13 Agustus 2017)

About Yepo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top