Friday , December 14 2018
Breaking News
You are here: Home / Berita / Radikalisme Islam: Laporan Tim Posfi 2016 dari Wina

Radikalisme Islam: Laporan Tim Posfi 2016 dari Wina

Setelah terbang selama kurang lebih duabelas jam rombongan Posfi yang terdiri dari lima orang—mewakili UIN Sunan Kalijaga, UIN Bandung, UIN Sumatera Utara, IAIN Salatiga dan IAIN Sultan Amai Gorontalo — mendarat di Wina hari Sabtu tanggal 22 Oktober 2016 jam sebelas siang. Minggu pertama di Wina di penuhi dengan jadwal orientasi lingkungan dan kampus Universitas Wina – Universӓt Wien nama Jerman nya– dan mendiskusikan rencana kegiatan selama dua bulan dengan Prof. Rüdiger Lohlker, supervisor Posfi.

Diskusi awal yang tim Posfi lakukan dengan Profesor Lohlker terkait dengan tema riset beliau yakni radikalisasi. Salah satu majalah Pendidikan di Wina “INTERVENTIONEN” terbitan Oktober 2016 mengangkat tema yang menjadi isu international yaitu “Preventing Radicalization”. Prof. Rüdiger Lohlker, turut menjadi salah seorang dari lima penulis pada majalah setebal 40 halaman ini. Entry dalam majalah itu yang berjudul The “I“of ISIS: Why Theology Matters yang ditulis oleh professor di bidang studi Islam pada Institute of Oriental Study universitas Wina ini memberi gambaran bagi pembaca tentang pandangan orientalist terhadap perilaku Jihad dari kalangan Islam.

Menurut Lohlker, kita tidak perlu lagi mempertanyakan apakah tindakan itu sesuai ajaran Islam, karena bukan Islam penyebab kekerasan ini, melainkan kekerasan yang dibuat oleh pelaku atas nama Islam. Lebih lanjut Lohlker mengutip buku Jihad dan Nihilisme Barat (Maneman 2016) disebutkan bahwa terdapat hubungan antara jihad Islam dan kekerasan.Menurut penulisnya, seperangkat simbol dan ide dalam Islam dapat digunakan untuk melegitimasi konflik kekerasan, akan tetapi penulisnya berbalik membantah argumentasi itu dengan merujuk pada fakta bahwa agama dalam kebanyakan kasus tidak menjadi elemen utama proses radikalisasi pemuda Eropa. Kasus yang telah dipublikasi secara luas menunjukkan bahwa para pelaku jihad hanya memiliki pengetahuan yang dangkal tentang Islam. Jadi islam tidak dapat dikatakan sebagai penyebab mereka radikal.”

Professor penganut Katholik yang menguasai bahasa Arab dan bisa berbahasa Indonesia ini menegaskan, satu-satunya cara untuk menghancurkan kekerasan atas nama agama adalah dengan membangun resistensi di kalangan pemeluk agama untuk tidak menjadi penganut teologi kekerasan, autoritarian dan homogenity. Menurut Lohkler “agama kekerasan” di sampaikan oleh kelompok ISIS dengan model komunikasi yang sangat terstruktur rmelalui selebaran, booklet singkat, pidato-pidato, propaganda melalui masjid, video, poster ditempat umum dan cara cara lain. Semua cara komunikasi ini dimaksudkan menyampaikan satu pesan: itulah Islam yang sebenarnya — the organized form of true Islam (Lohlker, 2016:7). Diskusi tentang radikalisasi ini akan di teruskan di minggu pertama November dengan diskusi tim Posfi dengan peneliti dari Vortex: sebuah proyek kerjasama antara Institute of Oriental Studies , University of Vienna, dan LibForAll-Foundation, yang salah satu projeknya ada di Indonesia.

sumber: http://diktis.kemenag.go.id

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top